Selasa, 29 Oktober 2013

Road To Jogja: Manusia Hanya Bisa Berencana

Liburan kami ke Jogja kali ini bermula dari celetukan iseng saat moci santai sabtu malam menjelang puasa. “maring jogja yuh” dan ide tersebut berhenti  disitu tanpa tau mau apa dan kemana di Jogja. Kata Jogja sendiri sudah merupakan ikon tempat wisata bagi kami, mungkin sama kasusnya seperti ‘ke Bali yuk!’ atau ke Bandung yuk!’ Iya kan? Eh.. Iya nggak sih?

Itinerary baru dibuat menjelang hari keberangkatan. Tiga objek wisata akan kami kunjungi pada hari pertama, dan dua objek wisata pada hari berikutnya. Sesuai jadwal, tepat pukul 04.00 WIB, dengan mengendarai tiga sepeda motor, kami berangkat membelah pagi menuju kota Jogjakarta.
 

Eh ternyata Jogja-Tegal itu jauh sodara-sodara. Matahari sudah tegak di atas kepala begitu kami menginjakkan kaki di Malioboro. Jaket yang terasa begitu tipis saat berangkat tadi pagi kini mendadak seperti menebal berpuluh-puluh kali lipat. Panasnya minta ampun! Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, meleset 3 jam dari rencana. Langsung kami putuskan untuk melongkapi jadwal dan mencari tempat untuk menginap malam ini.

Lagi-lagi, meleset dari perkiraan, hotel/losmen yang sesuai dengan budget kami ternyata penuh! Padahal lebaran sudah lewat satu minggu, namun kawasan malioboro masih saja sesak oleh wisatawan. Untungnya resepsionis hotel terakhir yang kami datangi berbaik hati mencarikan kamar di hotel lain yang tarifnya kurang lebih sama. Panas yang menyengat membuat kami malas muter-muter mencari sendiri hotel lainnya. Jadinya kami pasrah dan menurut saja diantarkan ke hotel yang di maksud.

Pemandangan Menuju Jogja
Pemandangan Pagi Menuju Jogja
Lokasi hotelnya masuk ke gang kecil. Tidak ada lahan parkir di hotel itu, tapi motor masih bisa diparkir dipinggiran gang. Dan lagi-lagi meleset dari perkiraan, waktu untuk check in pun ternyata lamaaaa sekali, sementara sofa di lobby hanya mampu menampung setengah dari jumlah kami. Satu jam berlalu, itinerary yang sudah saya buat semakin semrawut dan acak-acakan. Parahnya, setelah akhirnya kami menginjakkan kaki di lantai dua di kamar berAC nan sejuk gembira, mendadak seluruh badan kami melunglai persis seperti kanebo kering-kaku disiram air dan menjadi basah. Mata terasa berat dan punggung merengek minta diluruskan setelah dipaksa tegak diatas motor selama hampir sembilan jam. Yak, tamat sudah riwayat itinerary saya. Dua acara pun dicoret dari jadwal kami siang itu. Dan dari tiga tempat yang terjadwal untuk dikunjungi, hanya satu yang terlaksana.

Parkir Motor di Pinggiran Gang

Rabu, 04 September 2013

Benteng Pendem, Cilacap, Jawa Tengah

Benteng Pendem Cilacap

Pernah dengar kalau traveling itu candu? Well…. Yes… that is absolutely… TRUE.. Eh tapi saya, si suami dan teman-teman, sepakat untuk menyebut hobi kami ini turing, karena kami mengendarai motor sambil nyengir gembira, yang pada akhirnya membuat untu kami garing… alias Tu-Ring =D

Bisa dibilang ini turing keluar kota ke-2 kami setelah sebelumnya main ke Bumiayu. Cilacap menjadi tujuan kami kali ini. Kenapa Cilacap? Errrrr… ga tau juga sih. Pingin aja :D. Kalau kata orang jawa sih, sekerendegnya hati aja. Nyaris tengah hari kami berenam sampai di Cilacap. Rasanya bokong saya sudah hampir rata setelah duduk kurang lebih enam jam di jok belakang motor. Lagi-lagi hujan turun menemani perjalanan. Lengkap dengan jas hujan masing-masing, kami memasuki kawasan pantai teluk penyu.

Pantai Teluk Penyu Cilacap
Perahu ini nih yang digunakan untuk menyeberangkan wisatawan ke Pulau Nusa Kambangan
Seorang pemilik kapal menyambut kami dan menawarkan untuk mengantarkan kami menyeberang ke Pulau Nusa Kambangan. Tariffnya Rp. 15.000 perorang PP yang dibayarkan setelah mengantar kami pulang kembali ke Teluk Penyu. Sistemnya kami akan diantar ke Pulau Nusa Kambangan lalu si pemilik kapal akan kembali ke Teluk Penyu untuk mencari wisatawan lainnya yang ingin menyeberang. Kalau mau pulang, tinggal sms atau telepon dan ia akan segera datang menjemput. Yang harus diingat: jangan sampai lewat dari jam 6 sore atau siap-siap bermalam di Nusa Kambangan. Berhubung cuaca lumayan buruk, ombak lumayan besar dan perahu lumayan kecil, kami tidak berani menyeberang dan memutuskan untuk melangkah memasuki Benteng Pendem yang berada satu kawasan dengan Pantai Teluk Penyu, sesuai rencana awal.

Benteng Pendem Cilacap
Ini tempat apa ya? Mungkin tempat prajurit jaga?

Wisata Cilacap

Saya sedikit menyesal karena saya tidak banyak mendapatkan foto-foto yang bagus di Benteng Pendem ini. Hujan yang jatuh membuat saya takut-takut mengeluarkan kamera saya. Langit pun terlihat putih suram dan begitu membosankan. Hahaha.. oke itu hanya alasan saya saja. Sejujurnya saya merasa iri dengan para instagramer yang bisa mengambil foto-foto sedemikian menarik dan bagus. Makan apa sih mereka itu ya??

Ruang Senjata

Lorong

Penjara

Benteng Pendem

Sabtu, 03 Agustus 2013

Ritual Jelang Lebaran

Mudik, sesuatu yang Indonesia banget nggak sih? Entah sejak kapan fenomena mudik ini mulai terjadi di Indonesia. Seingat saya, dari saya orok, saya sudah sering dibawa mudik oleh orang tua saya. Menurut saya sih mudik sudah menjadi semacam ritual yang dilakukan setiap tahunnya jelang lebaran. Bahkan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Nah uniknya, ritual mudik ini pun ada semacam ritual pembukaannya juga. Jelang ramadhan perbaikan jalan mulai marak di sepanjang jalur mudik. Ada yang tambal sulam, ada yang pengaspalan ulang, dan ada pula yang pembetonan ulang. Eh tapi nggak cuma di jalur mudik aja lho yang sibuk diperbaiki. Jalan komplek tempat tinggal saya pun gak mau kalah.
 

Sebuah setum disewa untuk meratakan jalan. Si setum terparkir dengan manis di depan rumah bak model menunggu sesi pemotretan :D





Selasa, 16 Juli 2013

JPEG dan Adobe Camera Raw

Ini edisi saya lagi senang mengolah foto di Adobe Camera Raw. Ternyata oh ternyata, file foto-foto saya bisa juga dipoles pakai Camera Raw meskipun format file foto saya dalam bentuk JPEG dan bukan RAW. Ih gaptek banget ya saya baru tahu hal ini. Biarin deh, yang penting sekarang saya tahu dan pastinya saya senang dong karena kamera saya, si tustel hitam, hanya bisa menyimpan foto dalam format  JPEG.
In Mini Bridge or full Bridge, by right click a file, i can choose open with, camera raw. And that will open up a JPEG into Camera Raw even it wasn't a RAW file.
Kira-kira begitu kata-kata Gavin Hoey dalam video tutorialnya. Iya akhir-akhir ini saya memang sering banget ngelirik video tutorialnya Gavin Hoey, seorang fotografer freelance, penulis dan trainer fotografi. Banyak teknik dan tips yang bermanfaat dan mudah dipahami bahkan untuk seseorang yang amatir seperti saya :). Ini dia editan foto saya, straight out of Camera Raw.

awas beling galak

Enaknya memoles foto di Camera Raw, semua proses bisa dilakukan tanpa merusak foto asli. Jadi pengolahan yang dilakukan hanya tersimpan dalam metadata file fotonya. Foto bisa dikembalikan ke kondisi awal kapan saja saya mau.

Jumat, 05 Juli 2013

Sudut Soekarno-Hatta

Lagi di bandara Soekarno-Hatta. Lagi bengong-bengong nunggu di pintu kedatangan. Eh ada pojok yang sepi. Langsung deh....

….pret.


Fotonya saya proses di photoshop. Saya rubah menjadi black and white dengan menyisakan warna merah ditulisan 'shopping arcade' dan sedikit memainkan brightness/contrast dan layer blending.

Senin, 01 Juli 2013

Ternyata Kucing Itu...

Si Cimit, kucing jantan saya, saat usianya satu tahunan pernah menjadi idola lho. Tapi anehnya, Cimit bukan hanya menjadi idola para tamu atau tetangga yang melihat, ia juga menjadi idola kucing-kucing jantan! Tepatnya ada dua ekor kucing jantan yang sering bertandang, mencari, bahkan ngetem di depan rumah saya demi menunggu Cimit sambil sesekali mengeong-ngeong dengan keras. 

kucing jantan
ngetem
Saya sempat frustasi melihat kucing-kucing ini. Ada apa dengan mereka? Apakah mereka berperilaku menyimpang alias g*y? Mereka berdua saling berkelahi memperebutkan Cimit. Apa jangan-jangan si Cimit yang terlihat bersih, cantik dan wangi karena sering dimandikan dan disisir bulunya sehingga disangka betina?

cimit
cimit: am i preety?
Belakangan setelah saya jarang memandikan Cimit, kucing-kucing jantan tadi mulai sengit kalau bertemu Cimit. Menggeram, mengeong mengajak berkelahi. Hmmm... apa iya karena wangi shampoo sehingga Cimit disangka betina? Ngga tau juga sih.. tapi kucing memang mengenali sesuatu dengan mengendus-endus bukan?


Sabtu, 22 Juni 2013

Bulan Sejuta Umat

Betul, bulan memang objek foto sejuta umat. Siapa pun, dimana pun, dapat memotret bulan. Foto bulan juga sudah banyak bertebaran dimana-mana. Dan kali ini, saya menjadi satu diantara sejuta umat itu :D. Semua bersumber dari saya yang masih gaptek dengan si tustel hitam. Waktu itu si tustel baru saya pinang dan saya masih awam dengannya (sekarang pun masih masuk kategori awam sih :D)

Awalnya saya sedang mencoba memotret dengan manual fokus, namun saya tak kunjung mendapatkan fokus ke benda yang saya mau akibat ketidak-tahuan saya akan focal length dan jarak objek dengan kamera (padahal jelas-jelas di layar tertera 30cm - ~, 50cm - ~, 1.2m - ~ dan terus bertambah seiring saya zooming). Saya pun browsing di yutube dan menemukan video SX 30 IS, merk dan tipe si tustel hitam, sedang memotret bulan dengan manual fokus. Wuihh, kelihatannya mudah (ya iya lah... lha wong fokusnya tinggal diset ke infinity):D dan tadaaaa... ini dia hasil percobaan saya memotret si bulan tanpa tripod.

Full Moon
full moon

sx 30 is moon
akibat kamera shake

foto bulan
lumayan laaah


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes